Ai Killed the Graphic Designer
Rabu, 31 Desember 2025 / AdminDefault
Video killed the radio star = Ai killed the graphic designer?
untuk generasi boomers dan millenial pasti tidak asing dengan lagu ikonik The Buggles tahun 1979 yang menjadi video musik pertama di MTV pada 1 Agustus 1981, menandai era baru di mana video musik menggantikan radio sebagai media dominan dalam budaya pop, sebuah narasi tentang pergeseran teknologi yang mengancam bintang radio yang mengandalkan suara tanpa visual. Lagu ini secara puitis menggambarkan transisi dari “wajah radio” ke era visual, meskipun fenomena ini justru membuktikan radio tidak mati, melainkan berevolusi bersama video, menjadikannya simbol bersejarah perpaduan audio dan visual.
Pada masa itu radio sangat berjaya, didengarkan dimana mana-mana, dinikmati tanpa perlu dilihat, hingga muncul MTV (Music Television). Musik + video = audio visual. Secara keseluruhan, fenomena ini adalah kisah tentang bagaimana teknologi baru (video musik) mengubah lanskap hiburan, tetapi tidak sepenuhnya menghancurkan yang lama (radio), melainkan memaksa keduanya untuk berevolusi dan membentuk budaya pop modern.
Puluhan tahun berlalu, lagi-lagi teknologi baru terus muncul. dan kali ini muncul Ai (Artificial Intelligence) yang dampaknya sangat luas hampir ke seluruh lini digital. dan di tulisan ini kita fokus ke dampak Ai untuk industri kreatif khususnya para desainer grafis dan illustrator.
Ketakutan, kekhawatiran, penolakan, parno berlebihan dan perasaan atau pandangan pesimis terhadap sesuatu yang baru sering terjadi, itu wajar karena sesuatu yang baru menawarkan perubahan, mendobrak kebiasaan lama, dan menggeser zona nyaman yang sudah ada.
melihat mundur dari tahun-tahun sebelumnya, dimana teknologi baru bermunculan dan kenyataannya teknologi lama tetap ada tetap eksis dan berevolusi, maka begitu juga dengan Ai dan desainer grafis.
Ai merubah hampir semua pekerjaan kreatif, dan Ai membuat desainer grafis, illustrator, visualizer, dll menjadi naik kelas, lebih tepatnya dipaksa naik kelas menjadi Art Director jika masih ingin terus bertahan. Jika menolak teknologi baru bahkan melawannya kemungkinan akan tergerus dan tertinggal.
Ai ini adalah hal baru dan masih akan terus berkembang kedepannya, Ai ini tools sama seperti teknologi baru yang muncul di tahun-tahun sebelumnya. Ai adalah tools adalah alat atau kendaraan yang bisa membuat pekerjaan lebih cepat dan tujuan lebih mudah digapai dengan efisien.
Ai dalam industri kreatif hadir untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas bukan untuk menggantikan kreatifitas dan sentuhan manusia, untuk desainer grafis Ai bisa mengerjakan tugas yang makan waktu dan berulang seperti menyesuaikan ukuran gambar, menghilangkan background, variasi warna, dll. jika hal itu bisa dikerjakan oleh Ai maka desiner bisa fokus ke aspek kreatif seperti konsep, komposisi, dan elemen estetika.
Ai membuka peluang baru untuk desainer grafis dalam eksplorasi batas-batas kreatifitas mereka, dengan kemampuan Ai yang bisa menganalisa data dalam jumlah besar dan mengenali pola, desainer bisa mendapat wawasan baru tentang tren desain, referensi market, dan efektivitas visual. Informasi tersebut bisa membuat desain yang lebih tepat sasaran dan bisa lebih berdampak.
Ai bisa menjadi sumber ide dan inspirasi baru, dengan bantuan AI, desainer bisa membuat karya yang sebelumnya mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan secara manual.
AI bukan ancaman, desainer grafis harusnya melihat kehadiran AI sebagai partner yang bisa memperkuat kemampuan mereka. Kolaborasi antara manusia dan AI bisa menghasilkan hasil yang luar biasa, di mana AI membuat proses menjadi sederhana dan memberi wawasan berdasarkan data, sementara desainer memberi sentuhan kreatif dan perspektif manusia yang unik. Desainer yang bisa menguasai dan memanfaatkan kehadiran AI akan punya keunggulan kompetitif di pasar kerja. Mereka tidak hanya bisa bekerja lebih efisien, tetapi juga bisa memberi solusi desain yang lebih inovatif dan relevan. Kemampuan untuk mengintegrasikan AI ke dalam proses desain jadi keterampilan yang sangat berharga dan dicari perusahaan kedepannya.
Masa depan desain grafis adalah masa depan kolaborasi antara manusia dan mesin. AI tidak akan menggantikan desainer, tapi bisa jadi alat yang semakin penting dalam toolkit mereka. Pendidikan dan pelatihan dalam keterampilan digital dan penggunaan alat AI harus jadi bagian integral dari kurikulum desain grafis di institusi pendidikan indonesia agar generasi kreatif yang dilahirkan menjadi generasi kreatif yang up2date dan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang selalu dinamis.
Menjadi desainer grafis harus terbuka terhadap teknologi baru dan siap untuk terus belajar dan beradaptasi. Yang bisa berinovasi dan berkolaborasi dengan AI akan menemukan bahwa pekerjaan mereka menjadi lebih menarik, efisien, dan berdampak lebih luas.
Jadi, desainer grafis tidak perlu khawatir. AI bukan musuh, tapi sahabat yang bisa membantu membuat karya lebih keren dan inovatif. Masa depan desain grafis adalah masa depan kolaborasi yang harmonis antara kecerdasan buatan dan sentuhan manusia.
AI bisa membuat desain dalam hitungan detik. Jika diperintah. Tetapi AI tidak mengerti brief klien, nuansa brand, atau arah visual yang strategis. Itulah mengapa peran desainer berubah. Dari eksekutor menjadi konseptor. Ai adalah alat dan kendaraan. Yang membedakan hasil akhirnya tetap man behind the machine.
(illustrasi di artikel ini dibuat dengan Ai ChatGpT, dan tulisan di artikel ini juga dibuat dengan bantuan Ai)